| Pengemis Terjaring Razia Kantongi Rp 5 juta |
| Kamis, 28 Januari 2010 | |
|
Seperti yang terjadi saat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Banjarbaru melakukan razia di Pasar Bauntung, Senin (25/1) malam sekitar pukul 20.00 Wita. Saat itu, petugas berhasil menciduk lima pengemis. Salah satunya adalah Horio (50). Gelandangan dan pengemis datang ke Kota Banjarbaru silih berganti.Gelar operasi gepeng dan penangkapan sudah berulang kali dilakukan, namun meskipun berkurang tidak lama kemudian pasti datang yang baru. Dari beberapa kali penangkapan diketahui ternyata penghasilan dari mengemis di Kota Banjarbaru bisa melebihi penghasilan seorang pegawai tidak tetap (PTT) atau honorer. Pasalnya, hanya dalam waktu dua bulan beroperasi mengemis di Kota idaman Horio (50) mampu mengumpulkan uang sebesar Rp 5 juta. Saat terjaring razia di sekitar Pasar Bauntung , Horio sempat kelabakan saat diciduk aparat Satpol PP Kota Banjarbaru.Beberapa kali sempat membohongi petugas saat diminti keterangan, tak heran bila dirinya diinterogasi hingga 12 jam lamanya sampai akhirnya mengaku jika dirinya memang mengemis. Saat tertangkap , Horio kedapatan membawa uang hampir RP 5 juta yang sebagian sudah ditukarkannya, tebalnya uang yang dikantongi lelaki asal Madura berkemeja putih itu, diantaranya 27 lembar pecahan uang Rp 100 ribu, 34 lembar Rp 50 ribu, selembar R 20 ribuan, dan sisanya berupa uang recehan berupa kepingan logam. "Uang ini saya dapatkan dan saya kumpulkan dari mengemis, awalnya hanya iseng saja dan lama-lama menjadi kebutuhan.Penghasilan mengemis di Banjarbaru memang lumayan,"kata Horio. Horio sempat membohongi petugas dengan alasan, keberadaannya di Banjarbaru karena sehabis pulang dari Madura setelah usaha jual hewan ternak.Namun petugas Satpol PP Kota Banjarbaru merasa curiga, pasalnya setelah di cek kedapatan membawa uang sebanyak hampir RP 5 juta, tepatnya Rp 4.998.300, dalam bentuk lembaran dan recehan. Setelah diperiksa akhirnya Horio pun mengaku jika memang benar uang yang dikantonginya tersebt dari hasil mengemis.Setelah dibina, uang yang dikantongi Horio pun boleh saja diambil dengan catatan ada yang mendampingi atau menjamin. Mendengar kabar seorang ayah di Banjarbaru, bahkan diamankan pihak Satpol PP kota Banjarbaru, pihak keluarga langsung datang menjemput sekaligus untuk menjamin dan membawa pulang. "Saya kaget sekali karena yang saya tahu bapak berada di Madura, dan tentu saja meras malu kenapa bapak sampai mengemis,"ujar Fauziah yang berkerudung hitam saat itu, anak Horio yang datang menjemput dan memulangkan sang ayah mengantar hingga Pelabuhan Trisakti sore harinya. Demi sang Ayah jauh-jauh Fauziah ditemani suami dari warga Banyu Barau Rt 7 rw 5 Kelurahan kandangan Barat , kecamatan Kandangan kabupaten HSS ke kantor Satpol PP Kota Banjarbaru. Setelah datang pihak yang menjamin dan mengantar karena pihak keluarga yang meminta, selesai membuat perjanjian tertulis Horio pun meninggalkan Banjarbaru dengan uang yangh didapatnya kurang lebih Rp 5 juta diantar anaknya. Kepala Satpol PP Banjarbaru, Surianoor Akhmad mengatakan operasi sudah bekerja disekitar pasar bauntung jam 10 malam, Senin (25/1) dan menjaring pengemis sebanyak lima orang pengemis. "Bagi yang tertangkap setelah diperiksa kita bina, maka kitapulangkan. Sebelumnya kita buat perjanjian bila yang bersanghkutan dilarang meminta-minta di wilayah kota Banjabraru dan apabila satu kali lagi tertangkap maka akan dibawa ke meja hijau, dikenai perda tipiring dan penipuan,"katanya. Dikatakannya, belakangan ini memang menggiatkan operasi gepeng karena kehadiran gepeng di Kota Banjarbaru kian bertambah setiap harinya. "Banyak faktor alasan seseorang mengemis, dan itu salah satunya sebabnya mengapa pengemis di kota ini selalu ada saja walaupun kita sudah berulang kali menggelar operasi. Masyarakat kita, sangat dermawan memberikan uang kepada pengemis sehingga pendapatan yang didapat seorang pengemis di kota ini bisa menyamai pendapatan seorang pegawai,"katanya, Rabu (27/1). |




Kendati kerap dirazia, kehadiran pengemis di Banjarbaru tetap marak. Penghasilan menjanjikan dari meminta belas kasihan orang, menjadi pemicu tingginya 'minat' orang menjadi pengemis termasuk mereka yang berasal dari luar daerah ke kota itu.



