| Ketua Dewan Minta Nama Raskin Diganti |
| Kamis, 18 Juni 2009 | |
|
Macetnya penyaluran beras untuk warga miskin (Raskin) membuat Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Banjarbaru akhirnya turun tangan. Organisasi bentukan Wali Kota Rudy Resnawan itu, meminjam dana talangan.
Ketua LPM Banjarbaru, Yaser Arafat mengatakan, penyaluran raskin yang terganjal dana talangan sudah teratasi. LPM mengajukan dana pinjaman ke Pemerintah Kota (Pemko) Banjarbaru. "Kita banyak menerima keluhan dari masyarakat terkait raskin yang belum disalurkan. Setelah dikoordinasikan ke pemko, ternyata karena dana talangannya tidak ada," ujar Yaser Arafat. Berdasarkan ketentuan, pemko tidak bisa lagi menggunakan pola dana talangan dalam penyaluran raskin. Untuk menyiasatinya, LPM mengajukan pinjaman ke pemko untuk membeli beras. Dana pinjaman tersebut, lanjut Yaser, diajukan oleh LPM di masing-masing kelurahan. Tiap kelurahan menyerahkan dana tersebut ke kecamatan untuk dibelikan raskin di Bulog. "Dalam hal ini, kita tegaskan LPM tidak ikut campur dalam hal penyalurannya. Itu, ditangani sepenuhnya oleh kecamatan dan kelurahan. Yang pasti, dana yang diperlukan untuk membeli raskin di tiap kecamatan sudah beres," ujarnya. Sebagaiman diberitakan, dana yang diperlukan untuk membeli jatah raskin Kota Banjarbaru yang mendapat kuota 78.225 kilogram adalah Rp 125 juta. Raskin tersebut dibagikan kepada 5.219 rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTSPM). Menurut Yaser, setelah dana tersebut dikembalikan warga yang menebus raskin, diupayakan tetap berada di kecamatan, setidaknya dalam waktu satu tahun. Sehingga, dana itu dapat digunakan untuk membeli raskin jatah bulan berikutnya. "Diharapkan dana itu tetap ada, di bawah pemantauan kami. Tahun berikutnya, tidak ada lagi penyaluran raskin yang tersendat," bebernya. Terpisah, Ketua DPRD Kota Banjarbaru, Arie Sophian menegaskan, pihaknya kurang setuju dengan istilah beras miskin. Karena itu, menurut Arie, pihaknya akan mengusulkan agar di Kota Banjarbaru tidak mengunakan nama Raskin. "Program itu cukup bagus untuk membantu warga kurang mampu. Tapi akan diupayakan menggunakan nama yang baik. Masak sudah 60 tahun lebih merdeka, masih ada Raskin. Akan kita upayakan agar di Banjarbaru menggunakan nama lain," ujarnya. Menurut Arie, akan lebih baik jika program tersebut dinamakan beras bersubsidi agar tidak muncul kesan eksploitasi terhadap kemiskinan. |








