Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu wilayah dalam periode tertentu dapat dilihat dari angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), baik atas dasar harga berlaku maupun atas harga dasar konstan. PDRB merupakan jumlah produksi barang dan jasa dalam setahun yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah tertentu.

pasar-bjb

Gambar Kawasan Pasar Bauntung Banjarbaru & sekitarnya

Kondisi perekonomian Kota Banjarbaru tahun 2005 juga dapat dilihat dari indikator antara lain struktur ekonomi, pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita dan tingkat inflasi serta tingkat pengangguran terbuka. Struktur Ekonomi terbentuk dari nilai tambah yang diciptakan oleh masing-masing sektor yang digambarkan dari seberapa besar ketergantungan suatu daerah terhadap kemampuan berproduksi dari setiap sektor tersebut. Struktur ekonomi Kota Banjarbaru tahun 2005 secara lengkap dapat dilihat pada data berikut :

1.  Pertanian : 4,86%
2.  Pertambangan dan penggalian : 8,73%
3.  Industri pengolahan : 15,68%
4.  Listrik dan air bersih : 3,93%
5.  Bangunan : 16,26%
6.  Perdagangan, restoran dan hotel : 21,66%
7.  Pengangkutan dan komunikasi : 8,48%
8.  Keuangan, Sewa Bangunan dan Jasa Perusahaan : 4,05%
9.  Jasa-jasa 16,34
Sumber: PDRB, BPS Kota Banjarbaru, 2005

Pada data tersebut terlihat bahwa sektor perdagangan, restoran dan hotel menempati posisi tertinggi sebagai pendukung meningkatnya perekonomian Kota Banjarbaru, kemudian diikuti secara berurutan oleh sektor jasa-jasa, sektor industri pengolahan dan sektor bangunan.

Adapun pertumbuhan ekonomi tahun 2005 adalah sebesar 5,05%, dengan pendapatan perkapita adalah Rp. 6.192.589,00, nilai inflasi sebesar 6,77 persen serta tingkat pengangguran terbuka sebesar 9.38%. Pertumbuhan ekonomi Kota Banjarbaru secara umum selama periode 2002 – 2005 relatif stabil dalam kisaran 4% sampai dengan 5%.