Pendidikan

Dalam upaya meningkatkan kualitas suber daya manusia, pendidikan merupakan salah satu pilar terpenting. Hal tersebut terlihat dalam menghitung Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang menggunakan kinerja pendidikan berupa variabel gabungan angka partisipasi kasar (APK) jenjang pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi dan angka melek aksara bersama-sama dengan variabel kesehatan dan ekonomi sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Peningkatan kualitas pendidikan di Kota Banjarbaru dilakukan melalui peningkatan kualitas tenaga pengajar, perbaikan sarana prasarana pendidikan, peningkatan manajemen pendidikan dan pemberian bantuan kepada siswa serta partisipasi orang tua murid dan masyarakat.

Jumlah Sekolah Negeri, Kelas, Guru dan Murid
Menurut Tingkat Pendidikan

tabelpendidikan

Peningkatan kualitas tenaga pengajar dan sarana prasarana dilakukan secara berjenjang, melalui pendidikan anak usia dini (PAUD), wajib belajar sembilan tahun, dan pendidikan menengah. Kualitas PAUD dapat dilihat dari meningkatnya anak yang sekolah di TK dan TPA, meningkatnya jumlah TK dan TPA, menurunnya guru TK yang belum setara D-II dan meningkatnya sarana bermain serta kelompok bermain pendidikan. Pada tahun 2005 jumlah anak yang sekolah TK sebanyak 4.055 orang dengan jumlah TK sebanyak 54 buah, anak yang sekolah di TPA sebanyak 500 orang dengan jumlah TPA sebanyak 3 buah. Jumlah sarana bermain sebanyak 9 jenis dan kelompok bermain pendidikan sebanyak 6 buah. Adapun guru TK yang belum setara D-II sebanyak 219 orang.

Penerapan Wajib Belajar Sembilan Tahun di Kota Banjarbaru ditandai dengan meningkatnya Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM), menurunnya kekurangan ruang kelas, menurunnya kekurangan ruang penunjang, meningkatnya ruang KKG/PKG, menurunnya ruang rusak ringan, menurunnya guru yang belum setara, meningkatnya prosentasi kelulusan, dan meningkatnya nilai UNAS tertinggi serta menurunnya angka putus sekolah setara SD dan setara SMP.

Pada tahun 2005 APK SD/MI sebesar 107,12% dan SMP/MTs sebesar 91,69%. Sedangkan APM SD/MI sebesar 94,89% dan SMP/MTs sebesar 76,39%. Jumlah kekurangan ruang kelas SD/MI sebanyak 66 buah dan SMP/MTs sebanyak 10 buah. Kekurangan ruang penunjang perpustakaan SD sebanyak 62 buah dan SMP sebanyak 2 buah sedangkan kekurangan ruang kepala sekolah dan guru SD sebanyak 23 buah dan SMP sebanyak 9 buah.

Adapun kekurangan ruang UKS untuk SD sebanyak 38 buah dan SMP sebanyak 13 buah. Ruang KKG/PKG yang ada saat ini sebanyak 16 buah, ruang rusak ringan untuk SD/MI sebanyak 186 buah dan SMP/MTs sebanyak 35 buah. Guru yang belum setara D-II PGSD sebanyak 219 orang, setara SI PGSD sebanyak 820 orang, SI PGSMP sebanyak 98 orang. Prosentase kelulusan SMP/MTs pada tahun 2005 sebesar 79,58% dengan nilai UNAS tertinggi yang dapat dicapai SMP sebesar 8,21 dan MTs 7,13. Angka putus sekolah SD pada tahun 2005 sebanyak 1000 orang dan angka putus sekolah SMP sebanyak 1.520. Diharapkan angka putus sekolah menurun setiap tahun melalui kegiatan Paket A dan Paket B serta beberapa paket kebijakan yang diluncurkan pemerintah seperti dana BOS dan bantuan lainnya.

Peningkatan kualitas pendidikan menengah ditandai dengan meningkatnya APK dan APM untuk SMA/MA/SMK, menurunnya kekurangan ruang penunjang, menurunnya ruang rusak ringan, meningkatnya prosentasi kelulusan dan meningkatnya nilai UNAS tertinggi. Pada tahun 2005 APK untuk SMA/MA/SMK sebesar 71,79% dan APM untuk SMA/MA/SMK sebesar 60,63%.

Kekurangan ruang perpustakaan untuk SMA sebanyak 6 buah dan SMK sebanyak 5 buah sedangkan kekurangan ruang kepala sekolah dan guru untuk SMA sebanyak 5 buah dan SMK 6 buah. Adapun kekurangan ruang UKS untuk SMA sebanyak 6 buah dan SMK sebanyak 6 buah. Ruang rusak ringan untuk SMA/MA sebanyak 22 buah dan SMK sebanyak 11 buah. Prosentasi kelulusan UNAS pada tahun 2005 untuk SMA sebesar 61,53%, MA sebesar 21,10%, dan SMK sebesar 75,37%. Adapun nilai UNAS tertinggi yang dapat dicapai SMA adalah sebesar 9,2 dan MA sebesar 8,02 serta SMK sebesar 9,01.

Disamping PAUD dan WAJAR sembilan tahun, pemerintah kota juga menangani pendidikan non formal, pemuda dan olahraga. Meningkatnya kualitas pendidikan non formal dapat diketahui dari menurunnya angka buta huruf dan menurunnya angka putus sekolah setara SMA. Pada tahun 2005 angka buta huruf sebanak 850 orang. Diharapkan pada tahun 2008 tidak ada lagi masyarakat yang buta huruf.

Adapun angka putus sekolah setara SMA sebanyak 1.880 orang dan dengan kegiatan paket C sebanyak 280 orang, maka angka putus sekolah setiap tahun berjumlah 1.660 orang. Angka putus sekolah tersebut diatas dapat berada dibawah target diatas apabila terjadi peningkatan pelayanan pendidikan menengah.